Sunday, 16 December 2012

SEJARAH PENGASAS WAHABI MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB.


  • berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain. Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pengasasinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M).
    Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi oleh beliau adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.
    Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak dari mula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan abang kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama’ besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan terhadapnya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah.
    Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat: “Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’dham (kelompok majotiti) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.
    Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman : “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS: An-Nisa 115)


    Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.
    Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?? Dengan segera dia menjawab, “Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan” Lelaki itu bertanya lagi “Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim. Mendengar jawapan itu Ibn Abdul Wahab pun terdiam seribu bahasa. Walaubagaimanaipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak mematuhi nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.
    Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang tidak berpengetahuan agama banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pengasasi dinasti Saudi, yang akhirnya menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin masuk surga.
    Sejak dari mula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini ketara sekali ketika ia menyebut kepada para pengikut dari daerahnya dengan jolokannya Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijpanggil dengan jolokani Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucap dua kalimah syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diwajibkan mengakui bahwa para ulama' besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mahu mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak mereka pun terus dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi SAW di hadapannya, sehingga ada seorang pengikutnya berkata : ?Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak menghairankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, meratakan hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.
    Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merosak kiswah, kain penutup Ka'bah yang dibuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma'la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi dengan bunyi tabuh & gendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa'ud bangkit kembali mengusung fahaman Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, fahaman Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi'i yang sudah mapan.
    Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma'la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, iaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir unta, namun karena bantahan dan  desakan kaum Muslimin Antarabangsa maka dibangunkan perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semua AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman umat-umat Islam di seluruh dunia maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan membatalkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan diratakan tapi karena banyak yang menentangnya maka dibatalkan oleh Wahabi.
    Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu dimusnahkan. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta isterinya Khadijah r.a. meninggal.
    Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya buktil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Sami Angawi, pakar sejarah Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangunkan jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.
    “Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bahagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.
    Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

    Gerakan wahabi diterajui oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didokong oleh kewangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sefahaman dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid'ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di Indonesia mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.


    Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke Indonesia, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).
    Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua hanya bualan kosong belaka. Mereka telah mencatit catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbunuhi waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak yang kecil di dalam buaian juga mereka bunuhi di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid'ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid'ah? Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa’ud.

    Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya fahaman Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)
    “Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (gondol).” (HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban
    Nabi SAW pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.”, Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.
    Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gondol). Dan ini adalah merupakan nas yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gondol. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gondol), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian. Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala'udz Dzolam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW: “Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin”. AI-Hadits.

    BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab.
    Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M, seorang ulama’ mencatat tahunnya dengan hitungan Abjad: “Ba daa halaakul khobiits” (Telah nyata kebinasaan Orang yang Keji) (Masun Said Alwy)

Ancaman fahaman-fahaman Asing Terhadap Akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah Di Malaysia


م
نحمده ونصلى على رسوله الكريم
 Nota Perbincangan Berhubung:
Ancaman fahaman-fahaman Asing Terhadap Akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah Di Malaysia
Oleh:
Al-faqir ila’Llah Muhammad ‘Uthman El-Muhammady
 [23 April 2011 – Sabtu]
Bahagian I:
Beberapa Fahaman dan Aliran Yang Menyeleweng Dari Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah
Bahagian II:
Cabaran-cabaran Terhadap Ahli Sunnah Wal-Jamaah Yang Timbul Daripada Aliran-Aliran Yang Menyeleweng Daripadanya dan Jalan Ke Hadapan
*********************
Bahagian I:
Beberapa Fahaman dan Aliran Yang Menyeleweng Dari Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah 

A.     Tujuan perbincangan ini ialah
  1. Untuk memberi huraian ringkas berkenaan dengan ajaran Islam Ahli Sunnah wal-Jamaah yang merupakan ajaran arusperdana Islam semenjak mula-mulanya hingga sekarang.
  2. Memahami beberapa aliran dan aspek fahaman yang menyeleweng dari aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah.
  3. Mengenali cabaran-cabaran yang timbul daripada aliran-aliran ini.
  4. Tindakan kita untuk terus jalan ke hadapan.

B.     Apakah itu Ahli Sunnah wal-Jamaah
  1. Ianya adalah ajaran dari zaman Islam Rasulullah dan para sahabat serta mereka yang diakui sebagai contoh hidup keagamaan zaman tiga abad pertama sejarah Islam
  2. Mereka mengikut Quran, Sunnah Nabi, ijma’ atau persepakatan para ulama yang mampu membuat keputusan tentang hukum agama terus daripada Quran dan hadith Nabi dengan cara yang betul (dalam istilah ilmu Islam mereka disebut mujtahidin, ramai, kalau seorang mujtahid).
  3. Dalam perkara iman dan keyakinan; mereka mengikut mazhab Imam al-Asy’ari dan Maturidi.
  4. Dalam perkara-perkara hukum; mereka mengikut imam-imam mujtahid tersebut seperti di Dunia Melayu mereka mengikut Imam Syafie, di Pakistan dan India mereka mengikut Imam Hanafi, di Afrika Utara dan Andalusia zaman dulu mereka mengikut mazhab Maliki, mereka yang di Semenanjung Arab mengikut Imam Hambali.
  5. Dalam perkara-perkara berkenaan dengan membentuk hati dan akhlak yang baik mereka mengikut Imam Ghazali, termasuk Imam Junaid Baghdadi dan Imam Qusyairi.

C.      Ajaran dan amalan Ahli Sunnah
  1. Ianya berupa majoriti terbesar Muslimin di dunia hingga ke hari ini
  2. Yang mengikut aliran-aliran perpinggiran seperti Syiah dan Muktazilah dan lainnya, sedikit sekali.
  3. Kita boleh katakan Islam di Madinah, Damasyiq, Baghdad, Andalusia, Afrika Utara, Benua-kecil Indo-Pakistan, Dunia Melayu, semuanya Ahli Sunnah wal-Jamaah.
  4. Dunia telah mengenal Islam dalam Ahli Sunnah ini, bukan yang lain; yang lain adalah golongan minoriti yang kecil.
  5. Inilah ajaran dan amalan yang dijamin oleh Allah dan Rasul dan para imam mujtahidin dan ulama Ahli Sunnah. Berbahagialah mereka yang terus hidup dalam Ahli Sunnah, amin.

 D.     Aliran-aliran fahaman yang bercanggah:
Di akhir-akhir ini Islam menurut ajaran dan amalan Ahli Sunnah tercabar dengan berkembangnya aliran-aliran fahaman yang bercanggah dengannya. Antara fahaman-fahaman dan aliran berfikir itu ialah seperti berikut:
  1. Aliran Syiah
  2. Aliran tidak ikut mazhab; pakai faham agama cara bersendiri atau mengikut pengarang seperti Al-Bani
  3. Aliran mengikut Muhammad bin Abdul Wahhab (yang mengikutnya Albani)
  4. Aliran Islam liberal
  5. Aliran pluralisme (bahawa semua agama sama, sama-sama membawa kepada syurga [Islam, Kristian, Hindu, Buddha, dan lain-lain, aliran Shinto, semuanya sama, membawa ke syurga]).
  6. Aliran sekularisme

a.      Aliran Syiah:
Antara ajaran-ajarannya:
  1. tentang imam-imam yang maksum tidak berdosa langsung,
  2. para sahabat Nabi s.a.w. menjadi murtad habis selepas wafat baginda, melainkan yang tinggal hanya 3 orang atau 7 orang sahaja, yang lain habis kafir murtad. Dijauhkan Allah.
  3. Mereka ada Qur’an Mushaf Fatimah katanya, mereka beramal dengan taqiyyah atau kepura-puraan (dissimulation), mereka mengamalkan kahwin mut’ah, sehingga dengan isteri orang pun boleh berkahwin mut’ah kata Khomeini dalam kitabnya Tahrir al-Wasilah jilid 2.
  4. Mereka percaya kepada raj’ah, yakni sebelum kiamat berlaku, manusia akan hidup semula dan imam Mahdi Syiah bernama Muhammad bin Hasan al-Askari akan menghukum mereka yang tidak mengambil Ali sebagai imam. Bila semua telah dihukum baharulah semuanya mati semula dan lepas itu baru berdiri kiamat.

b.      Aliran tidak pakai mazhab:
  1. Mengajarkan mengikut mazhab bidaah, nabi tidak buat, semua mesti mengikut Quran dan hadith, lagi pula sekarang sudah senang kerana Quran dan hadith ada terjemahan; kita boleh buat keputusan sendiri tak perlu ikut siapa-siapa;
  2. Kita hanya wajib ikut Rasulullah; dia maksum orang lain tidak maksum.
  3. Kalau ikut mazhab boleh membawa kepada syirik dan kufur sebab ibaratnya seperti ‘beribadat’ kepada mereka (ibadadatul-ahbar wa ‘r-rahban) (عبادة الاحبار والرهبان).yakni seperti menyembah orang alim, menyembah orang soleh.

c.       Aliran Wahhabiah:
  1. Mengajarkan jangan mengikut mazhab, ikut sahaja pengarang seperti Nasir al-Bani, Abu Aminah Bilal Philips, Abdul Aziz bin Baz, Uthaimin dan yang seperti mereka.
  2. Qunut adalah bidaah, demikian pula bidaah membaca Ya Sin malam Jumaat, membuat tahlil arwah, mengadakan majlis maulid, membaca talkin bila orang mati, membuat tahlil arwah, membaca wirid ramai-ramai selepas sembahyang, kemudian mengaminkan doa imam beramai-ramai, mengaji tasawwuf bidaah dan sesat, demikiian seterusnya. Dan bila orang membuat bidaah-bidaah seperti ini mereka masuk neraka. Dijauhkan Allah.
  3. Dulu dipanggil kaum muda sekarang dipanggil salafi.
  4. Mana-mana tempat ada fahaman ini ada berlaku perkelahian bahkan tumbuk menumbuk. Bahkan bila teruk berlaku bunuh membunuh.
Lihat kenyataan Syeikh Al-Azhar:

(الاثنين 04 ابريل 2011
مصرحًا بأن عقيدته أشعرية صوفية.. شيخ الأزهر يصف السلفيين بالخوارج
مفكرة الاسلام: أقر الدكتور أحمد الطيب شيخ الأزهر أن عقيدة الأزهر الشريف هى عقيدة الأشعرى والماتريدى وفقه الأئمة الأربعة وتصوف الإمام الجنيد.
[Dr Ahmad al-Tayyib menegaskan bahawa akidah al-Azhar yang mulia adalah akidah Imam Asyari dan al-Maturidi, fiqhnya ialah fiqh imam empat mazhab, dan tasawwufnya adalah tasawwuf imam al-Junaid]
وفي هجوم جديد على الإسلاميين ادعى الدكتور الطيب أن من أسماهم “السلفيين الجدد” هم خوارج العصر، محذرًا من وجود مخطط لاختطاف الفكر والمنهج الأزهرى الوسطى المعتدل الذى حافظ الأزهر عليه لأكثر من ألف عام.
[Dalam satu serangan baru ke atas setengah golongan Islam (yang bercanggah dengan al-Azhar) Dr Al-Tayyib mendakwa bahawa mereka yang menamakan diri mereka itu ‘Golongan Salafi yang “Strict”/Ketat) mereka itu adalah Khawarij zaman ini, serta dengan beliau memberi peringatan tentang adanya langkah-langkah untuk merosakkan/memusnahkan pemikiran mengikut kaedah al-Azhar yang menengah dan seimbang yang al-Azhar menjaganya selama lebih daripada seribu tahun]

وبدون أن يقدّم دليلاً اتهم الدكتور أحمد الطيب السلفيين في الهجوم على الأضرحة وما يسمى “مقامات الأولياء”، وقال وفق صحيفة “الأهرام”: “هذا العمل يخالف صحيح الإسلام 
وأن الازهر سيبقى أشعرى المذهب ومحافظًا على الفكر الصوفى الصحيح الذى انتمى إليه عشرات من شيوخ الأزهر على مدى تاريخه“.
…Dan al-Azhar akan kekal dengan mazhab al-Asy’ari dan menjaga pemikiran sufi yang sohih yang yang dinisbahkan kepadanya berpuluh-puluh daripada syaikh-syaikh Azhar dalam perjalanan sejarahnya

أنصار الطائفة الخلوتية يدعمون شيخ الأزهر
الجدير بالذكر أن أنصار الطائفة الخلوتية التي يترأسها شيخ الأزهر الدكتور أحمد الطيب كانت قد نظمت تظاهرة كبيرة تم الحشد لها من جميع المحافظات، رددت فيها الشعارات المشهور تداولها في النظام السابقبالروح بالدم نفديك يا إمام !! وهو ما أعاد إلى الواجهة واقعة الجمل الشهيرة إبان الثورة التي حاول النظام السابق فيها إظهار وجود أنصار له ترفض تنحيته أو رحيله 


!!
جاء هذا التحرك بعد أن قام بضعة آلاف من أساتذة جامعة الأزهر ومشايخ وأئمة المساجد بمشيخة الأزهر على مدار الأيام السابقة بمظاهرة حاشدة مطالبين الإمام الأكبر ومفتي الديار المصرية بالقيام بدور فعلي في إصلاح الأزهر الشريف بعد أن تعرضت هذه المؤسسة للخذلان والتخريب في ظل النظام السابق وفي ظل الدور المتخاذل والضعيف الذي كانت تقوم به المشيخة في ذلك العهد
.
وتضمنت هذه المطالب أن يتم تشكيل هيئة كبار العلماء وفق ضوابط محددة بعيدًا عن الانتقائية والطائفية وأن يكون اختيار كل من شيخ الأزهر ومفتي الديار بالانتخاب، إضافة إلى رئيس الجامعة وعمداء الكليات
.
وندد آلاف المتظاهرين بما أسموه الموقف الشائن والمخذل للثورة الذي قام به كل من فضيلة شيخ الأزهر وفضيلة مفتي الديار المصرية ؛ حيث صدرت فتاوى رسمية تدعو إلى جواز ترك صلاة الجمعة والصلاة في البيوت فيما اعتبره الثوار محاولة لإفشال الدعوة إلى التظاهرات المليونية، واعتبروه نوعا من التمالؤ والتواطوء مع النظام الفاسد ضد الثورة.
ثوار التحرير يطالبون بإقالة شيخ الأزهر
وكان أعضاء المجلس الأعلى للأزهر قد شاركوا في المظاهرة الحاشدة التي شهدها ميدان التحرير بوسط القاهرة الجمعة، للمطالبة بإقصاء رموز النظام السابق، ومحاكمة المتهمين بالفساد 


.
وذكرت مصادر مطلعة أن المتظاهرين طالبوا بإقالة الدكتور أحمد الطيب شيخ الأزهر بعد أن اتهموه بالتعسف ضد العاملين والموظفين بالمشيخة، واتهموا أتباعه بأنهم قاموا بالتعدي عليهم الأربعاء الماضي وقاموا بتحرير محضر ضده بقسم الجمالية مطالبين بتطهير الأزهر من فلول النظام السابق.

d.      Islam Liberal:
  1. Fahaman ini mengajarkan tidak ada hukum Allah, tetapi yang ada ialah budaya
  2. Kita tidak wajib mengikut fiqh klasik sebab itu adalah pemikiran manusia zaman dulu
  3. Semua agama membawa kebenaran
  4. Wahyu tidak putus, wahyu masih ada, orang yang menulis dalam surat khabarpun mendapat wahyu, wahyu dalam erti fikiran; yang tidak ada hanya wahyu verbal, yang ada pada orang menulis pada surat khabar adalah wahyu ‘non-verbal’.
  5. Orang Islam berkahwin boleh dengan orang yang beragama lain; itu disebut perkahwinan lintas agama.
  6. Lihat laman web ‘JIL;-jaringan Liberal Islam’ akan didapati banyak maklumat-maklumat pelik yang membawa kepada kekufuran. Dijauhkan Allah.

e.      Aliran sekuklarisme:
Cara berfikir dan bertindak yang mengecualikan secara total agama dari semua ruang awam tanpa kecuali (lihat takrif sekluarisme oleh George Holyoake).

f.       Aliran pluralisme agama:
  1. Aliran ini mengatakan bahawa semua agama sama, sama benar, semuanya membawa kepada syurga;
  2. Orang Islam tidak boleh mengaku ia mempunyai kebenaran, sebab semuanya benar. Maha suci Allah.
  3. Kalau demikian apa gunanya Nabi s.a.w. datang dan membuat pembetulan atas agama Kristian dan Yahudi di zamannya?
  4. Apa ertinya tokoh-tokoh seperti al-Ghazali membela kebenaran Islam berdepan dengan ajaran-ajaran yang tidak benar?
  5. Apa ertinya Solah a-Din al-Ayyubi berjihad masa Perang Salib kalau semuanya benar membawa ke syurga? Maha suci Allah.
Kesimpulannya kita mesti kekal dalam agama Islam mengikut Ahlissunnah wal-Jamaah sebab itu yang menjamin kebahagiaan di dunia dan di akhirat; itulah yang menjadi pegangan ulil-amri negeri ini bermula daripada Agung sampai kepada rakyat jelata. Amin.

E.      Beberapa Persoalan:
i. Tentang Berimamkan Orang Dalam Sembahyang
  1. Kalau kita mengetahui orang itu jatuh ke dalam kekufuran kerana percakapannya, atau perbuatannya, atau iktikadnya yang dia beritahu kepada kita, kita tidak boleh berimamkannya.
  2. Kalau tidak jatuh ke dalam kekufuran tetapi ke dalam maksiat, masih kita sah berimamkan dia dalam sembahyang, walaupun yang afdhalnya kita berimamkan orang yang soleh.

ii. Tentang fahaman yang mengatakan amalan Islam tinggal di rumah di tempat kerja kita tidak bawa Islam. Islam hanya di rumah.
Kita mesti beramal dengan agama kita di mana kita berada; sebab Allah melihat di mana kita berada. Lagi pula Islam adalah cara hidup yang lengkap, bukan berbicara tentang sembahyang dan puasa dan terhenti setakat itu sahaja.

iii. Tentang soalan apakah yang perlu dilakukan selepas mendengar ceramah dan penerangan seperti ini.
  1. Selepas mendengar ceramah dan faham hendaklah beramal dengan apa yang didengar, bermula dengan perkara-perkara yang wajib dahulu, dan mengelak daripada perkara yang dilarang, seperti mulai dengan sembahyang, puasa Ramadhan, membayar zakat, dan seterusnya.
  2. Mesti mengawal diri sabar meninggalkan perbuatan yang ditegah; mesti meninggalkan ajaran yang salah dan bertaubat seperti ia berkata “ya Allah aku bertaubat daripada berpegang kepada i’tikad yang mengatakan sabahat-sahabat kafir dan aku mengucap ‘ashhadu alla ilaha illah…

iv. Soalan tentang bagaimana caranya fahaman-fahaman yang bercanggah dengan Ahli Sunnah itu menyusup masuk ke dalam masyarakat Islam
Fahaman itu boleh masuk melalui mendengar ceramah ilmu sesat itu daripada orangnya, atau kerana terpengaruh dengan bacaan tentang ilmu itu, atau melalui pengaruh kawan-kawan; ataupun mungkin kerana diumpankan dengan wang, maka orang yang terumpan terhutang budi; atau ditawarkan peluang berkerja, atau ditawarkan peluang melanjutkan pengajian diberi biasiswa ditanggung (seperti yang dibuat oleh Syiah dan Wahhabi, bahkan Amerika).

v. Soalan tentang Interfaith Council atau Suruhanjaya Antara Agama-agama
  1. Interfaith Council (IFC) atau Suruhanjaya Antara Agama-agama kalau dibiarkan ada dan berjalan, ia membawa kepada meletakkan agama Islam setara dengan sistem-sistem kepercayaan lain, dan dengan itu ia berlawanan dengan Quran, Sunnah dan ijma’.
  2. Dalam Negara ini tidak mungkin sebab hanya Islam agama persekutuan, yang lain-lain diberi kebebasan diamalkan dalam aman dan sejahtera (in peace and security) jangan dengan cara yang tidak damai dan tidak sejahtera.

vi. Soalan berkenaan bagaimana fahaman-fahaman yang menyeleweng itu membahayakan keselamatan Negara.
  1. Tentang fahaman yang menyeleweng dan bahaya kepada keselamatan Negara: kalau fahaman itu seperti Wahhabiah, maka dalam Wahhabiah ada fahaman yang menganggap negeri orang Islam sebagai negeri syirik, kerana mengamalkan demokrasi;
  2. Kerana demokrasi, kata mereka, mengambil alih kuasa Tuhan membuat peraturan, maka syirik itu; dengan itu mereka anggap boleh berontak menentang kerajaan;
  3. Lihat bagaimana mereka memberontak menentang kerajaan Uthmaniah Turki; atau mereka boleh kata: negera sekular, bukan Islamik, kita berontak, walhal dalam Ahli Sunnah haram menentang ulil-amri kecuali ulil-amri itu kafir dengan nyata seperti ia menyembah berhala, atau membatalkan hukum Islam, seperti membatalkan puasa kerana katanya merugikan tenaga kerja, mengurangkan produksi negara; atau membatalkan haji kerana rugi tukaran asing (foreign exchange); kalau tidak, haram menentangnya;
  4. Kalau hendak diberi pendapat yang berguna, ianya, secara al-din al-nasihah yakni agama adalah nasihat yang ikhlas dan berguna, atau agama adalah keceriaan murni yang gigih (active attitude of sincere concern) itu dengan mengikut saluran yang betul. Demikian seterusnya.
  5. Kalau Wahhabi yang demikian tentu berbahaya atas keselamatan Negara; demikian juga Syiah, sebab dalam ajaran mereka negara yang sah hanya negara di bawah Imam Maksum, yang lain tidak; dan fahaman itu boleh membawa kepada pemberontakan; bila pemerintah mengeluarkan arahan tidak didengarnya.

vii. Soalan bagaimana cara tindakan yang perlu diambil kalau kaum kerabat sendiri terlibat dalam ajaran menyeleweng daripada Ahli Sunnah
Kalau kita camkan benar-benar sahih ia beramal dengan ilmu yang salah;
  1. Kita perlu cari orang yang ada ilmu untuk membawanya ke jalan yang lurus dengan cara yang lemah lembut dan nasihat yang memikat hati,
  2. Atau kita berikan kepadanya buku yang memberi penerangan yang betul tentang perkara-perkara yang membawanya kepada kesesatan;
  3. Atau kita cuba selesaikan perkara itu dalam kalangan keluarga dahulu; kalau tidak ada jalan barulah kita meminta pertolongan orang yang bukan keluarga;
  4. Kalau ia degil kita akhirnya terpaksa laporkan kepada pihak jabatan agama. Itu kalau tidak ada jalan lain lagi.

viii. Soalan tentang bagaimana cara mengecam yang orang-orang itu beramal dengan ajaran yang menyeleweng, cara mengenalnya.
Kalau Syiah kita boleh cam:
  1. ia sembahyang sujud atas tanah atau batu yang dibawanya; atau bila ia memberi salam dalam sembahyang dia menepuk-nepuk pahanya;
  2. atau dia suka mencela sahabat nabi, seperti Abu Bakar, Umar dan Aisyah – Allah meredhai mereka semua.
  3. Atau ia tambah dalam azan ‘wa ashhahu anna Ali waliyullah’ , ertinya aku menyaksikan bahawa Ali waliyullah, atau ia kata hayya ala khairil-amal, marilah kepada amalan yang sehabis baik, sebagai gantihayya alal-solah, dan lain-lain di bawah akidah; atau ia bercakap tentang kahwin mutaah dan fadhilat-fadhilatnya mengikut ajaran Syiah walhal ia haram mengikut ijma’;
  4. atau ia jamak Zohor dengan Asar dan Maghrib dengan Isya’ walaupun bukan kerana musafir atau sakit atau kerana sebab-sebab lain.

ix. Soalan berkenaan dengan bergaul dengan mereka yang mengamalkan ajaran-ajaran seumpama itu, adakah kita menjauhi mereka?
  1. Kalau kita bergaul dengan mereka kita boleh mempengaruhi mereka ke jalan yang baik, kerana kita ada pengetahuan dan amalan yang teguh, kita boleh bergaul;
  2. Kalau merasa diri agak lemah, dan orang yang berkenaan kuat, berpengaruh, pandai mempengaruhi orang dan kita tidak mampu menepis pengaruhnya, kita elak daripada bergaul dengannya;
  3. Kita bergaul dengan orang yang kuat membawa kita kepada kebaikan.

Bahagian II:
Cabaran-cabaran Terhadap Ahli Sunnah Wal-Jamaah Yang Timbul Daripada Aliran-Aliran Yang Menyeleweng Daripadanya dan Jalan Ke Hadapan
Cabaran-cabaran yang timbul daripada aliran-aliran yang bukan daripada Ahli Sunnah itu adalah seperti berikut:
A.     Cabaran dari Syiah
  1. Cabaran akidah
    • Cabaran akidah kerana ia mengajar tentang Imam maksum yang lebih daripada Nabi dan rasul (melainkan nabi Muhammad salla’Llahu alía wa sallam)
    • Kerana ia mengajar tentang ada Quran Siti Fatimah (Mushaf Fatimah)
    • Kerana akidah sahabat menjadi kafir selepas wafat Rasulullah
    • Kerana akidah raj’ah
    • Kerana menganggap orang Ahli Sunnah kafir
  2. Cabaran syariat daripadanya – kerana ajaran tentang kahwin mutaah
  3. Cabaran hidup akhlak – kerana sikap menghina orang Ahlisunnah, kata mereka orang Ahlisunnah nawasib (نواصب) ertinya yang paling hina dalam dunia harus dibunuh
  4. Cabaran terhadap keselamatan negara dan masyarakat-kerana anggapan mereka kerajaan tidak sah de jure, yang sah kerajaan Syiah di bawah imam maksum (Syariah superstate under the infallible imam)

B.     Cabaran daripada aliran tidak mengikut mazhab
  1. Cabaran akidah
    • Sebab kecelaruan akidah yang tidak dipandu oleh akidah Ahli Sunnah, dibimbangi mereka memahami ayat-ayat Quran dan hadith yang mutasyabihat mengikut zahir lafaznya
    • Menuduh orang lain kafir kerana menolak sifat Tuhan cara mereka fahami secara literal – menolak sifat dua puluh yang diterima ijma’ ulama dalam Ahlisunnah.
  2. Cabaran Syariat – berlaku kecelaruan mengikut syariat dan memahaminya sebab mereka memahami sendiri ayat-ayatnya walhal pengetahuan sebagaimana yang diajar dalam Ahli Sunnah kekurangan, tetapi mereka sangat berani memberi pendapat (ada kisah berkenaan orang yang menuduh ulama dulu tidak ‘educated’ ‘they just wrote down what they heard’ kemudian bila dia ditanya tentang erti hadith, satunya yang menyatakan Nabi s.a.w. sembahyang sunat lepas Asar, satunya yang melarang sembahyang sunat selepas sembahyang Asar, akhirnya ia berkata ‘saudara ini complicated, I don’t know)
  3. Cabaran kemasyarakat – berlaku kekeliruan dalam hidup masyarakat sebab kurang panduan yang mengikut tertib dan disiplin, masing-masing membawa penafsiran sendiri, membuat hukum sendiri; sebelum mufti bersidang dia sudah berfatwa konon seperti hendak ‘jump the gun’.

C.      Cabaran cabaran hidup ilmiah
Kekacauan dalam hidup ilmiah tentang Islam sebab metodologi ilmu Ahli Sunnah tidak diikut.

D.     Cabaran dari aliran Wahhabiah
  1. Cabaran akidah
    • Akidah rosak menjadi mujjassimah – Tuhan berjisim
    • Menjadi musyabbihah-menyamakan Tuhan dengan makhluk
    • Boleh membawa kepada kekufuran kerana itu (dijauhkan Allah)
    • Menuduh orang bertawassul sebagai kafir, kata mereka menyeru kepada orang yang sudah mati.
  2. Cabaran Syariat
    • Berlaku kekeliruan yang tidak menentu dalam memahami syariat sebab tidak ada panduan metodologi yang tersusun rapi
    • Membawa kepada perpecahan dan perkelahian sebagaimana yang boleh disaksikan
    • Tidak taat kepada ulil-amri
  3. Cabaran akhlak-akhlak: mereka yang mengikut aliran ini biasanya kasar-bahasa yang digunakan iala bahasa kafir-Islam, bahasa sunnah-bidaah, bahasa negara kafir-negara Islam, bahasa salafi-bukan salafi, perang mengkafirkan dan membidaahkan orang, dan perang menggunakan kekerasan (seperti bertumbuk).
  4. Cabaran hidup kerohanian
    • Bahaya kepada hidup rohaniah
    • Mereka menolak tasawwuf bahkan mengkafirkan orang tasawwuf
    • Mengkafirkan ibn Arabi
    • Menuduh orang tasawuf berakidah kufur kerana hulul (menganggap Tuhan berada dalam diri manusia)
    • Menuduh orang tasawwuf berakidah wahdatul-wujud yang mereka faham bererti makhluk adalah Tuhan
    • Menuduh orang tasawwuf tidak taat kepada syariat dan sunnah sebab semua Tuhan
    • Sebab itu golongan ini kasar akhlak dan adabnya, bahasanya juga biasanya kasar seperti bahasa yang digunakan oleh Nasir al-Din al-Albani dan Syeikh Uthaimin dan yang seperti mereka.
    • Cabaran keselamatan negara dan masyarakat
  5. Cabaran dalam perkembangan budaya-cabaran budaya yang membawa kepada mentaliti hitam-putih, menolak pemikiran yang bersifat falsafah kerana ini disangka bidaah dhalalah/sesat semua sekali, bukan dari ajaran nabi

E.      Cabaran daripada Islam Liberal:
  1. Cabaran akidah – konsep wahyu Qur’an ditambah dengan wahyu yang non-verbal katanya.
  2. Cabaran Syariat-tidak ada hukum Tuhan kata mereka, yang ada budaya, kita mesti fikir sendiri undang-undang, tidak tertaaluk lepada fikah dan usul al-din.
  3. Cabaran hidup rohaniah: cabaran tidak patuh kepada peraturan Syarak-membawa kepada ibadat tidak sah, perkahwinan tidak sah, dan pembahagian harta pesaka tidak sah.
  4. Cabaran akhlak: akhlak golongan liberal longgar sebab ajaran akhlak yang murni sebagaimana yang ada dalam Quran dan Sunnah hilang kesannya atas orang ramai-dibimbangi kemerosotan akhlak yang parah, membawa kepada kerosakan peribadi, rumahtangga dan masyarakat.
  5. Cabaran kerukunan masyarakat dan negara: ekoran daripada perkara di atas keselamatan negara dalam bahaya kalau orang ramai berpegang kepada aliran ini. Hidup keluarga dan masyarakat tidak tersusun dan damai serta teratur; berlaku kekeliruan nilai dan tindakan yang tidak seragam. Bagi Islam dalam Malaysia ia paling berbahaya, sebab negara yang berbilang kaum, bila Muslim yang majoriti terpecah kerana aliran liberal ia membawa implikasi yang paling membimbangkan masa depannya.
  6. Cabaran keselamatan negara.
  7. Cabaran hidup bertamadun dan budaya-hidup budaya bercelaru tanpa panduan yang tetap. Timbul kekacauan dalam memahami hukum dan moral.

F.       


Cabaran aliran sekularisme:
  1. Cabaran akidah: cabaran kekufuran kerana menolak agama dan ajaran agama dalam ruang awam – tetapi yang berlaku di Malaysia bukan sekularisme Barat totok sebab agama ada dalam ruang awam.
  2. Hanya agama banyak yang perlu diusahakan dalam ruang awam supaya berjaya, walaupun banyak yang sudah berjaya diusahakan seperti dalam kewangan dan undang-undang serta pendidikan.

G.     Cabaran aliran Pluralisme agama:
  1. Cabaran akidah sebab ia bercanggah dengan Quran tentang kedatangan Islam memansukhkan syariat-syariat lain.
  2. Cabaran menolak kebenaran Islam yang mutlak.
  3. Cabaran Syariat: Penghayatan Syariat Islam tidak menjadi kewajipan yang ditanggung dengan serius sebab ada lagi yang yang benar bukan ia sahaja –maka kesetiaan kepada syara’ terjejas.
  4. Cabaran akhlak: -Akhlak Islam menjadi longgar – ini boleh diperhatikan daripada perkembangan moral yang longgar di kalangan golongan pluralis (apa lagi bila ia bergabung dengan golongan feminis Barat yang mengikut falsafah pascamodernisme).
  5. Cabaran keselamatan negara: bila orang terpengaruh dengan pluralisme agama, maka kesetiaan kepada agama Islam yang menjadi negara persekutuan sudah menjadi tugas yang ditanggung, menjadi ringan, kesetiaan kepada ulil-amri yang diajar dalam Islam terjejas, dengan itu terjejas keselamatan negara.

Jalan Ke Hadapan
  1. Perlu diberi pendedahan yang memadai dan berkesan tentang Ahli Sunnah kepada semua peringkat ahli masyarakat.
  2. Pendedahan tentang kemestian mengikut Ahli Sunnah dan hujah-hujahnya serta kebaikan-kebaikannya.
  3. Juga bahaya kalau tidak mengikutnya.
  4. Bahaya-bahaya yang terkandung dalam aliran-aliran pemikiran lain dalam negara.
  5. Jawapan-jawapan terhadap persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh aliran-aliran yang menyeleweng perlu didedahkan kepada semua peringkat masyarakat.
  6. Golongan agama mesti bersatu padu dalam memberi penerangan kepada orang ramai dan jangan menangguk di air yang keruh kerana sebab-sebab peribadi atau kelompok
  7. Keperluan institusi keluarga, masjid dan sekolah dimanfaatkan bagi menyampaikan kesedaran kepada semua pihak, dengan kerjasama semua pihak: kerajaan, NGO, media, para pendidik dan seterusnya.
Wallahu a’lam.

Wednesday, 11 July 2012

martabat puasa

Setiap orang yang berpuasa dibahagikan kepada 3 jenis martabat utama iaitu martabat  ORANG YANG MUBTADI ( orang awam ) ,martabat ORANG YANG MUTAWASSIT (orang khusus/khowas),dan martabat ORANG YANG MUNTAHI ( Khowasul khowas/terperinci ). Berikut antara sedikit penjelasan ketiga-ketiga darjat menurut ulasan dari Kitab Kashful Asror & Kitab Asroru Ddin :-

1.  Martabat orang Mubtadi(Orang Awam)

Sekadar menahan makan dan minum di siang hari dan menahan jimak pada siang hari serta menghadirkan niat pada malamnya.

2.  Martabat orang Mutawassit(Orang Khusus/Khowas)

Menahan segala anggota yang tujuh daripada mengerjakan yang haram;
  • Menahan dua mata daripada yang haram seperti melihat perempuan yang hilat;
  • Menahan lidah daripada mengumpat dan berdusta;
  • Menahan telinga daripada mendengar perkataan yang sia-sia dan mendengar orang mengumpat
  • Menahan tangan daripada mencapai/mengambil yang haram
  • Menahan kaki daripada berjalan kepada pekerjaan yang haram;
  • Menahan faraj daripada yang haram;
  • [Menahan hidung daripada menghidu yang haram]
Mungkin inilah apa yang diisyaratkan oleh Rasulullah s.a.w melalui sabdanya:

"Bukanlah puasa itu sekadar menahan diri dari makan dan minum sahaja. Tetapi sesungguhnya puasa itu menahan diri daripada berkata-kata yang tidak sopan, perbuatan yang sia-sia dan keji." (Riwayat Ibnu Khuzaimah)

Dan berkata orang-orang Mutawassit kepada orang-orang Mubtadi;

"Hanya payah(penat/lelah) berlapar dan dahaga sahaja;  tiada faedah pada berpuasa(yakni tidak dapat mengasuh dan mendidik jiwanya daripada memelihara anggota zahirnya)

Menurut kitab Asroru-Ddin puasa ini ialah
  • menahan diri daripada menerima kebencian oleh segala makhluk dan
  • menahan diri daripada hawa nafsu yang datang  dan
  • menahan diri daripada
    • keluh kesah kena bala dan
    • keluh-kesah dalam berbuat taat dan
    • keluh-kesah menahan qada dan qadar daripada Allah Taala walaupun ianya sangat dibenci olehmu sekalipun.
 3.  Martabat orang-orang Muntahi(Khowasul-khowas/ArifbiLlah)

Memelihara hati daripada mencita-citakan kemuliaan dunia dan menahan hati ingat akan ghairullah(sesuatu selain daripada Allah).

Dan jika ditanya manakah yang dikatakan sebenar-benar puasa?

Maka jawapannya ada pada cara berpuasa orang-orang Muntahi ini ; di mana puasa mereka ialah  berpuasa hati mereka daripada  condong atau cenderung dan mengingati sesuatu selaian daripada Allah.
  • Mereka berpuasa daripada makan dan minum (jasad yang basyariyah)
  • Mereka berpuasa daripada berkira-kira untuk menyediakan menu yang lazat-lazat sewaktu berbuka atau bersahur.
  • Mereka berpuasa daripada melakukan maksiat-maksiat yang zhohir (nafsu yang syaithoniyah)
  • Mereka berpuasa daripada membilang-bilang pahala amalan;
  • Mereka berpuasa daripada mengukur-ukur kedudukan diri dan martabat; (aku bijak,  aku pandai,  aku alim, aku banyak amal,  aku pembimbing manusia,  aku telah capai maqam anu,  maqam itu)
  • Mereka berpuasa daripada menghidu aroma syurga
  • Mereka berpuasa daripada menoleh kepada karenah alam dan makhluk
  • Mereka berpuasa daripada menilik wujud diri sendiri
  • Mereka berpuasa daripada memandang kepada wasitoh (amal, barakah, guru, ilmu, karamat dan apa sahaja yang bernama Masyiwallah.
Puasa mereka ini  melengkapi jasad,  hati,  akal dan ruh.
Tidak perlulah kita membilang-bilang darjat dan tingkatan puasa kita,namun  renung dan muhasabahlah  amal-amal yang kita lakukan agar ianya dapat dipersembahkan kepada Allah dalam keadaan yang sempurna. Ke mana sahaja kita menghadap, disitu jualah Allah berada.

Wallahua`lam..

Selamat menunaikan ibadah berpuasa.

Sekian.

Wednesday, 13 June 2012

Pembubaran perkahwinan dalam Islam


Perkahwinan  adalah akad yang ditentukan oleh syarak bagi  menghalalkan hubungan jenis antara lelaki dengan wanita.Ia merupakan satu jalan yang mulia untuk mengatur hidup berumahtangga dan bagi menyambung generasi yang bertanggungjawab.
Perkahwinan juga bertujuan supaya suami isteri dapat hidup bersama,berkongsi masalah suka duka,mendidik anak dan sebagainya.Namun,kadang kala harapan ini tidak tercapai kerana berlaku perselisihan dan pergaduhan sehinggalah terjadinya perceraian.Oleh itu Islam telah menyediakan beberapa cara dan jalan terakhir sekiranya suami isteri bertekad untuk membubarkan perkahwinan mereka antaranya ialah talak,fasakh,khuluk,takliq,lian,ila’dan zihar. 

Pengertian talak
Talak dari segi bahasa beerti melepaskan ikatan.Dari segi syarak ialah melepaskan ikatan perkahwinan dengan menggunakan lafaz talak atau sumpamanya.

Dalil harus talak     

Firman Allah SWT dalam surah Albaqarah Ayat 229 :

Maksudnya: talak (yang boleh dirujuk kembali itu hanya) dua kali. sesudah itu bolehlah ia (rujuk dan) memegang terus (isterinya itu) Dengan cara Yang sepatutnya atau melepaskan (menceraikannya) Dengan cara Yang baik.

Hadis yang diriwayatkan daripada saidina umar yang bermaksud:
            “Rasulullullah S.A.W telah menceraikan isterinya Hafsah kemudian baginda merujuknya semula”

Rukun dan syarat talak  

1.Suami.syarat-syarat suami ialah:
a)Mestilah seorang lelaki itu telah menjadi suami melalui perkahwinan yang sah,tidak jatuh talak jika belum berkahwin  atau telah bercerai dan habis eddah
b)Hendaklah suami dalam keadaan sedar,tidak jatuh talak sekiranya gila,pengsan dan pitam kecuali mabuk disebabkan minum minuman  keras dengan sengaja.
c)Baligh
d)Dengan rela hati dan tidak dipaksa,tidak jatuh talak jika diugut menceraikan isteri.

2.Isteri.Syarat-syarat isteri ialah:
a)Perempuan yg diceraikan hendaklah isteri yang sah semasa diceraikan
b)Talak akan bertambah lagi jika suami mentalakkan isteri yg didalam eddah perceraian talak Satu

3.Sighah(lafaz)sighah talak terbahagi kepada dua:
a)lafaz sarih(terang)iaitu yang diucapkan dengan terang dan jelas.Lafaz sarih ini terbahagi kepada tiga ucapan  sepeti berkata: “Aku ceraikan engkau talak satu”, “Aku lepaskan engkau”dan “Aku talakkan engkau”.Talak dengan lafaz  seperti ini akan jatuh akan jatuh talaknya walupun tanpa niat.
b)Lafaz kinayah(lafaz kiasan),iaitu cerai yang dilafazkan menggunakan bahasa sindiran seperti berkata : “Engkau haram keatas diriku”atau “pergilah balik kerumah emak bapak kamu” lafaz kinayah ini akan jatuh talak jika suami berniat menceraikan isterinya.
4.Qasad

Hukum talak 

Hukum menjatuhkan talak pada asalnya diharuskan dalam Islam,tetapi ia akan berubah menjadi:
1.Wajib:setelah rumahtangga itu gagal diperbaiki dengan keputusan hakim atau suami telah bersumpah untuk menceraikan isterinya.
2.Haram:menceraikan isteri semasa isteri dalam waktu haid atau ketika suci tetapi baru disetubuh.
3.Sunat:Jika suami tidak dapat menyempurkan nafkah batin
4.Makruh:Boleh menjadi haram jika menceraikan isteri tanpa sebab yang munasabah.
Islam menetapkan hanya suami sahaja yang mempunyai kuasa untuk menjatuhkan  talak walaubagaimanapun,isteri juga diberikan hak untuk memohon cerai dengan cara fasakh atau khuluk(tebus talak)



Pembahagian talak
Talak terbahagi kepada dua jenis iaitu:
1.Talak raj’I ,iaitu talak yang boleh dirujuk kembali tanpa perlu aqad nikah iaitu ketika isteri dalam waktu eddah(sebelum tiga kali suci daripada haid)
2.talak ba’in,ia terbahagi kepada dua:
a)Ba’in sughra:Talak yang tidak boleh dirujuk oleh suami kecuali diadakan aqad nikah yang baru iaitu perceraian yang dilakukan dengan cara khuluk(tebus talak)
b)Ba’in kubra:talak yang tidak boleh dirujuk kembali dengan cara biasa melainkan setelah syarat berikut dipenuhi:
i.Setelah selesai eddah si isteri
ii.Bekas isteri berkahwin dengan suami lain
iii.Suami lain menyetubuhi bekas isteri itu dan berlaku perceraian
iv.Selesai eddah dari suami yang lain itu

faktor berlaku perceraian

1.Kesetian dan kepercayaan :  Dalam hal ini baik lelaki  ataupun wanita sering kali mengabaikan peranan kesetiaan dan kepercayaan yang diberikan pada tiap pasangan, hingga timbul sebuah pertelingkahan.
2. Seks :  Kerap kali pasangan mengalami tidak puas dalam bersetubuh dengan pasangannya, sehingga menimbulkan masalah diantara keduanya.Apabila berlaku masalah ini suami isteri hendaklah berbincang bagaimanakah cara untuk mengatasi masalah tersebut.  
3.Ekonomi : faktor  ekonomi  mendorong pasangan bekerja untuk memenuhi tuntutan  ekonomi keluarga, sehingga adakalanya  perbezaan  dalam pendapatan atau gaji membuat setiap pasangan berselisih,  lebih-lebih lagi apabila  suami yang tidak bekerja.
4.Pernikahan tidak berlandaskan rasa cinta : keadaan  ini biasanya terjadi  disebabkan ibubapa yang mahukan  anaknya dikahwinkan dengan pasangan yang sudah ditentukan, sehingga setelah menjalani bahtera rumah tangga sering kali pasangan tersebut tidak mengalami keserasian.
5.Keturunan : Anak  memang menjadi impian bagi setiap pasangan, tetapi tidak semua pasangan mampu memberikan keturunan,  mungkin disebabkan  kemandulan pada salah satu pasangan tersebut, sehingga menjadikan sebuah rumah tangga tidak harmoni.


Prosedur perceraian

1. Seseorang suami atau seseorang isteri yang hendak bercerai hendaklah membuat permohonan kepada Mahkamah Syari‘ah di mana (tempat) dia bermastautin.

2. Sebelum sesuatu permohonan cerai dikemukakan kepada Mahkamah Syari‘ah, pihak suami isteri diminta membuat pengaduan ke Bahagian Khidmat Nasihat/Rundingcara di Pejabat Agama Islam Daerah untuk diberikan rundingan terlebih dahulu.

3. Sekiranya tidak ada jalan penyelesaian untuk mereka berdamai barulah kes tersebut dipanjangkan ke Mahkamah Syari‘ah.

4. Setelah Mahkamah Syari‘ah bersidang dan membuat sesuatu keputusan mengenai perceraian pasangan tersebut, pihak Mahkamah hendaklah menghantar satu salinan keputusan permohonan tersebut kepada Pendaftar Perkahwinan, Penceraian dan Rujuk Daerah yang berkenaan.

5. Pendaftar Nikah, Cerai dan Rujuk  Daerah hendaklah menyemak keputusan perceraian yang dikeluarkan oleh Mahkamah tersebut. Jika terdapat keraguan atau kesilapan teknik hendaklah dikembalikan untuk pembetulan.

6. Pendaftar Nikah, Cerai dan Rujuk  Daerah hendaklah menandatangani Sijil Cerai yang telah disempurnakan dan menghantar satu salinan kepada Ketua Pendaftar Nikah, Cerai dan Rujuk  Negeri .

7. Pendaftar Nikah, Cerai dan Rujuk  Daerah hendaklah merekodkan dan mendaftarkan perceraian tersebut di dalam Buku Daftar Cerai.

8. Pendaftar hendaklah menyerahkan Sijil Cerai tersebut kepada pasangan berkenaan setelah isteri tersebut tamat eddahnya dan direkodkan di dalam buku daftar serahan sijil cerai.

9. Bagi kes suami yang ingin berkahwin dengan perempuan lain semasa dalam eddah  isterinya, maka pihak suami dikehendaki membuat permohonan berpoligami kepada Mahkamah Syari‘ah di mana tempat ia bermastautin/tinggal.

10. Pendaftar Nikah, Cerai dan Rujuk  Daerah hendaklah merekodkan dan mencatatkan maklumat perceraian tersebut berdasarkan keputusan Mahkamah.



Kesan-kesan perceraian 

Islam tidak menggalakkan perceraian kerana ia akan mengakibatkan implikasi dan permasalahan yang besar disebabkan oleh perpisahan tersebut.Berbagai permasalahan akan timbul apabila berlaku perceraian di antara suami dan isteri.sebahagian dari kesan-kesan perceraian adalah:

1.Kesan emosi
Setiap pasangan yang menghadapi pergolakan rumah tangga pasti akan merasai tekanan perasaan seperti berikut:
a)jiwa terganggu
b)marah
c)sedih
d)tidak bermaya
e)terpencil
f)rendah diri
g)runsing
h)putus asa/kecewa
i)kesunyian

2.kesan terhadap anak
Dalam perceraian ,anak-anak menjadi mangsa terutama jiwa dan perasaan mereka.Mereka kurang mendapat kasih sayang ,perhatian dan bimbingan dari ibu bapa mereka.diantara kesan-kesan perceraian terhadap anak-anak ialah:
a)Kehilangan kasih sayang daripada ibu dan bapa
b)Kadangkala terpaksa berpisah daripada adik beradiknya
c)Rasa bersalah,malu,tidak selamat,hilang rasa keyakinan diri
d)Mengalami tekanan jiwa dan perasaan
e)Hilang tumpuan pada pelajaran
f)Akan menunjukkan tabiat dan sikap yang negatif

3.Kesan terhadap masalah kewangan 
Jika seseorang itu berpisah disebabkan masalah kewangan,perkara ini akan tetap menghantui diri mereka setelah bercerai nanti.Sebahagian dari permasalahan yang akan mereka hadapi adalah:
a)Kemewahan hidup sebelum ini terpaksa disekat,disebabkan oleh mata sepencarian yang tunggal
b)Masalah kewangan akan semakin menekan jika seorang isteri sebelum ini hanya bergantung kepada yang  diberikan oleh suami
c)Perbelanjaan harian anak-anak akan terjejas dan ini mungkin akan turut menjejaskan prestasi mereka
d)Berlaku tuntutan berhubung isu nafkah anak di mahkamah

4.kesan terhadap sosial
Jika berlaku perpisahan,kehidupan social seseorang itu juga akan mengalami kepincangan.permasalahan yang berhubung dengan pergaulan dan interaksi sesame manusia akan mengakibatkan kesan-kesan yang negatif dalam kehidupan mereka seperti:
a)Pasangan akan dipandang sinis oleh masyarakat dengan gelaran yang mereka miliki(janda/duda)
b)suami dan isteri akan kehilangan keluarga,saudara mara dan kawan dari pasangan masing-masing
c)pasangan terpaksa mendapatkan bantuan dan pertolongan dari keluarga dan saudara mara dalam hal penjagaan anak-anak
d)pasangan kadang-kadang terpaksa mendapatkan bantuan kebajikan dari badan-badan tertentu

pengertian eddah

Eddah bermaksud tempoh seseorang wanita yang telah diceraikan mesti menunggu sehingga habis tempoh tersebut sebagai ibadah untuk Allah SWT atau sebagai tanda kesedihan diatas kehilangan suami atau bagi memastikan kandungannya bebas dari janin(tidak hamil).Eddah terbahagi kepada dua bahagian:
1)Perempuan yang kematian suami
a)Edah bagi perempuan yang mengandung dgn melahirkan anak.
b)Jika perempuan itu tidak hamil eddahnya empat bulan sepuluh hari


 2)Perempuan yang bukan kematian suami
a) Eddah bagi perempuan yg suaminya masih hidup jika hamil eddahnya apabila melahirkan anak
b)Jika perempuan itu tidak hamil eddahnya tiga kali suci
c)Jika perempuan itu masih budak atau perempuan yang sudah putus asa daripada haid eddahnya tiga bulan

pengertian fasakh

 Fasakh ialah membatalkan atau melepaskan akad nikah disebabkan oleh kecacatan yang berlaku pada waktu akad atau kecacatan yang mendatang selepas berlakunya akad nikah yang menghalang kekalnya perkahwinan.

Sebab fasakh

Antara  sebab yang boleh menyebabkan berlakunya fasakh ialah:

1.Sebab yang merosakkan akad.

a) Isteri termasuk dalam golongan orang yang haram dikahwini sama ada sebab keturunan, susuan atau persemendaan atau bekas isteri yang dalam tempoh eddah  talaq suami pertamanya.

b) Pernikahan yang dilakukan semasa belum baligh (kecil) dan apabila baligh minta difasakhkan akad itu.

2.Sebab yang mendatang selepas pernikahan.

a) Salah seorang daripada suami atau isteri itu murtad.

b) Pasangan suami isteri bukan Islam semasa bernikah dan salah seorang memeluk Islam.

c) Suami telah melakukan salah satu perkara yang diharamkan sebab seperti berzina dengan ibu mertua.

 Manakala dalam Enakmen Undang-Undang Keluarga Islam  Seksyen 53 menegaskan lagi sebab-sebab yang menyebabkan berlakunya fasakh seperti di bawah ini:

1. Tempat di mana beradanya suami tidak diketahui selama tempoh lebih dari setahun.

2. Suami cuai atau telah tidak mengadakan peruntukan nafkah bagi nafkahnya selama tempoh tiga bulan.

3. Suami telah dihukum penjara selama tempoh tiga tahun atau lebih.

4. Suami  tidak menunaikan tanpa sebab yang munasabah nafkah batin selama tempoh satu tahun.

5. Suami mati pucuk pada masa perkahwinan dan masih lagi sedemikian dan isteri tidak tahu pada masa perkahwinan bahawa suami mati pucuk.

6. Suami telah gila selama tempoh dua tahun, sedang mengidap penyakit kusta atau sedang mengidap penyakit kelamin yang boleh berjangkit.

7. Suami atau isteri menganiayai isteri atau suaminya, iaitu antaranya:

a) Lazim menyakiti atau menjadikan kehidupannya menderita disebabkan kelakuan aniaya.

b) Berkawan dengan perempuan-perempuan atau lelaki yang berperangai jahat atau hidup keji mengikut pandangan hukum syarak.

c) Cuba memaksa isteri hidup secara lucah.

d) Melupuskan harta isteri atau suami atau melarang isteri atau suami itu daripada menggunakan hak-haknya di sisi undang-undang terhadap harta itu.

e) Menghalang isteri atau suami daripada menunaikan atau menjalankan kewajipan atau amalan agamanya.

f) Jika suami mempunyai isteri lebih daripada seorang, dia tidak melayani isterinya secara adil mengikut kehendak-kehendak hukum syarak.

9. Walaupun empat bulan berlalu perkahwinan itu belum disatukan kerana suami atau isteri bersengaja enggan bersetubuh.

10. Isteri tidak izin akan perkahwinan itu atau izinnya tidak sah sama ada dengan sebab paksaan, kesilapan, ketidaksempurnaan akal atau lain-lain hal yang diakui oleh hukum syarak.

Hikmah fasakh

1. Untuk menjamin hak dan perlindungan kepada kaum wanita sekiranya mereka teraniaya.

2. Menyedarkan kaum suami bahawa perceraian bukan hanya dimiliki secara mutlak oleh suami sahaja.

3. Menunjukkan keunggulan syari‘at Allah SWT yang Maha Mengetahui akan keperluan hambaNya.

Pengertian khuluk

 
Khuluk  dari segi bahasa bererti melepas atau menanggalkan.
 Manakala dari segi syara‘ pula ialah perceraian daripada suami ke atas isteri dengan tebusan yang diterima oleh suami.
 Contohnya suami berkata “Aku talaqkan kamu dengan bayaran sekian banyak” atau isteri berkata: “Aku menebus talaq ke atas diriku dengan bayaran sekian banyak”.

 
Dalil  khuluk

 Firman Allah SWT:
Maksudnya:talak (yang boleh dirujuk kembali itu hanya) dua kali. sesudah itu bolehlah ia (rujuk dan) memegang terus (isterinya itu) Dengan cara Yang sepatutnya atau melepaskan (menceraikannya) Dengan cara Yang baik dan tidaklah halal bagi kamu mengambil balik sesuatu dari apa Yang telah kamu berikan kepada mereka (isteri-isteri Yang diceraikan itu) kecuali jika keduanya (suami isteri takut tidak dapat menegakkan aturan-aturan hukum Allah. oleh itu kalau kamu khuatir Bahawa kedua-duanya tidak dapat menegakkan aturan-aturan hukum Allah, maka tidaklah mereka berdosa - mengenai bayaran (tebus talak) Yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya (dan mengenai pengambilan suami akan bayaran itu). itulah aturan-aturan hukum Allah maka janganlah kamu melanggarnya; dan sesiapa Yang melanggar aturan-aturan hukum Allah, maka mereka itulah orang-orang Yang zalim.



Syarat sah khuluk

 Syarat sah khuluk adalah seperti berikut:

1. Suami: Baligh, berakal, mukhtar (bebas) melakukan khuluk  bukan dipaksa.

2. Isteri: Hendaklah seorang yang boleh menguruskan harta dan mukallaf.

3. Lafaz khuluk: Hendaklah disebut dengan terang.

4. Bayaran khuluk: Hendaklah dijelaskan dengan jumlah yang tertentu.


 Peringatan:
Walaupun isteri mempunyai hak untuk memohon fasakh dan khuluk, tetapi Rasulullah sallallahu SAW menuntut agar ia tidak dilakukan dengan sewenang-wenangnya.

 Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:

"Mana-mana perempuan yang memohon cerai daripada suaminya tanpa sebab yang munasabah maka haram ke atasnya bau syurga."
    (Riwayat Bukhari)

Jika suami tidak bersetuju menjatuhkan talaq dengan kerelaannya sendiri, tetapi isteri bersetuju bercerai dengan tebus talaq, Mahkamah hendaklah  menasihatkan suami itu melafazkan perceraian dengan tebus talaq mengikut hukum syarak, dan perceraian itu adalah bain sughra dan tidak boleh dirujukan.

Pengertian takliq

Takliq ialah lafaz yang diucapkan sebagai syarat untuk membatalkan pernikahan jika berlakunya sesuatu yang bertentangan dengan ta‘liq tersebut.

Syarat jatuh cerai takliq :

    1. Suami: Hendaklah mempunyai keahlian menjatuhkan cerai dengan melafazkan kata-kata takliq.

    2. Belum berlaku: Hendaklah takliq ke atas perkara yang belum berlaku atas perkara yang mungkin berlaku.

    3. Isteri: Hendaklah menjadi ahli cerai (masih menjadi isteri yang sah).

 Contohnya suami berkata kepada isteri: “Jika engkau keluar dari rumah ini sepanjang ketiadaan aku, jatuhlah talak engkau” atau “Apabila engkau pergi ke rumah si anu, jatuhlah talak” atau “Manakala engkau pergi ke sana tanpa izinku jatuh talak” atau sebagainya.

 Apabila berlakunya perkara yang bertentangan dengan syarat yang dilafazkan, maka terjatuhlah talak menurut hukum syarak.


Pengertian Li’an

Li‘an berlaku apabila terjadinya qazaf iaitu suami menuduh isterinya berlaku zina atau menafikan anak yang dikandungkan oleh isterinya sebagai anak.

Li‘an ialah sumpah seorang suami apabila dia menuduh isterinya berzina tanpa mempunyai empat orang saksi kecuali dirinya sahaja, maka hendaklah dia bersumpah empat kali “bahawa dia adalah orang yang benar” dan pada kali kelimanya “bahawa dia akan dilaknati Allah jika dia berdusta”.

Sekiranya isteri menolak tuduhan tersebut, maka hendaklah dia bersumpah sebanyak empat kali “bahawa suaminya itu berdusta” dan pada kali kelimanya “bahawa dia akan dilaknati Allah jika suaminya benar”.

Firman Allah SWTdalam surah Annur Ayat 6-9:

Maksudya:Dan orang-orang Yang menuduh isterinya berzina, sedang mereka tidak ada saksi-saksi (yang mengesahkan tuduhannya itu) hanya dirinya sendiri, maka persaksian (sah pada Syarak) bagi seseorang Yang menuduh itu hendaklah ia bersumpah Dengan nama Allah, empat kali, Bahawa Sesungguhnya ia dari orang-orang Yang benar; -
dan sumpah Yang kelima (hendaklah ia berkata): Bahawa laknat Allah akan menimpa dirinya jika ia dari orang-orang Yang dusta.
dan bagi menghindarkan hukuman seksa dari isteri (yang kena tuduh) itu hendaklah ia bersumpah Dengan nama Allah, empat kali, Bahawa suaminya (yang menuduh) itu Sesungguhnya adalah dari orang-orang Yang berdusta; -
dan sumpah Yang kelima (hendaklah ia berkata); Bahawa kemurkaan Allah akan menimpa dirinya jika suaminya dari orang-orang Yang benar.


Kesan Lia’n

1.Jika pihak-pihak kepada sesuatu perkahwinan telah mengangkat sumpah dengan cara li‘an mengikut hukum syarak di hadapan seorang hakim syar‘i, atas penghakiman, maka hakim syar‘i itu hendaklah memerintahkan mereka difaraqkan dan dipisahkan dan hidup berasingan selama-lamanya.”

2.Mengikut peruntukan hukum syarak, sekiranya yang menuduh (suami) enggan bersumpah, maka dia akan dikenakan hukuman qazaf dengan sebatan sebanyak 80 kali rotan. Manakala jika isteri yang dituduh pula tidak menolak tuduhan suaminya, maka dia akan dikenakan hukuman sebagaimana orang yang berzina kecuali kedua-dua mereka bersumpah dan melakukan li‘an.

3.Apabila kedua-duanya bersumpah dan melakukan li‘an, maka ikatan perkahwinan mereka suami isteri akan terputus sama sekali dan mereka diharamkan berkahwin semula buat selama-lamanya.



Pengertian Ila’

Dari segi bahasa bermakna sumpah.Dari segi syarak ialah suami bersumpah untuk mencegah dirinya dari menyutubuhi isterinya selama empat bulan atau lebih

Firman Allah SWT dalam surah Albaqarah ayat 226-227
kepada orang-orang Yang bersumpah tidak akan mencampuri isteri-isteri mereka, diberikan tempoh empat bulan. setelah itu jika mereka kembali (mencampurinya), maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.
dan jika mereka berazam hendak menjatuhkan talak (menceraikan isteri), maka Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui.

Hukum Ila’

Apabila suami bersumpah untuk tidak menyetubuhi isterinya  selama empat bulan atau lebih,maka suami terpaksa melalui beberapa peringkat hukum:
1.Hakim akan menangguhkan si suami dari menyetubuhi isterinya selama 4 bulan bermula dari hari pertama suami bersumpah.Penangguhan ini dibuat untuk memberi peluang kepada suami sama ada menarik balik sumpah atau menjatuhkan talak
2.Menarik balik sumpah dengan menyetubuhi isterinya serta membayar kaffarah
3.Atau menjatuhkan talak keatas isterinya jika enggan menarik balik sumpahnya


Jika tamat tempoh empat bulan yang diberikan oleh hakim sedangkan si suami masih enggan melaksanakan salah satu daripada dua perkara tersebut hakim akan memerintah suami supaya menjatuhkan talak, sekiranya suami masih enggan untuk menjatuhkan talak maka hakim akan menggunakan kuasanya untuk menjatuhkan talak satu kepada isteri.

Kesan ila’

1.Terdapatnya penderaan secara batiniah kerana menurut pendapat sheikh bajuri(hasyiah bajuri ala ibnu qosim) perempuan boleh bersabar daripada disetubuhi suaminya selama empat bulan sahaja jika lebih daripada itu kesabarannya mungkin akan hilang atau kurang sabar
2.terpaksa membayar kaffarah sumpah jika suami menarik balik sumpahnya dan kembali menyetubuhi isterinya
3.bergantung dengan hukum talak jika suami enggan menarik balik sumpahnya
4.bergantung dengan hukum eddah jika suami mentalak isterinya

Kaffarah sumpah  

1.Merdekakan seorang hamba yang beriman atau
2.memberi makanan atau pakaian kepada 10 orang miskin atau
3.berpuasa sebanyak tiga hari dengan niat kaffarah


Pengertian zihar
Dari segi bahasa ialah belakang,dari segi syarak suami menyerupakan isterinya dengan perempuan-perempuan yang haram dinikahinya

Dalil hukum zihar

Firman Allah SWT dalam surah Almujadalah ayat 2:

orang-orang Yang "ziharkan" isterinya dari kalangan kamu (adalah orang-orang Yang bersalah, kerana) isteri-isteri mereka bukanlah ibu-ibu mereka. ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah perempuan-perempuan Yang melahirkan mereka. dan Sesungguhnya mereka (dengan melakukan Yang demikian) memperkatakan suatu perkara Yang mungkar dan dusta. dan (ingatlah), Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, lagi Maha Pengampun.

Syarat terjadinya zihar

1.Perempuan itu merupakan isteri yang sah kepada suaminya
2.Wanita-wanita yang diserupakan suami itu adalah terdiri daripada wanita-wanita yang haram dikahwininya dengan sebab nasab,susuan atau perkahwinan
3.Suami adalah orang yang sah talaknya
4.Suami tidak menyertakan lafaz zihar dengan lafaz talak,jika suami menyertakan lafaz ziharnya dengan talak maka tidaklah terjadi zihar sebaliknya berubah kepada hukum talak. 

Kesan zihar
1.Suami tidak boleh menyutubuhi isterinya selagi tidak membayar kaffarah
2.Suami terpaksa menanggung kepayahan dalam melaksanakan kaffarah
3.Bergantung dengan hukum talak dan eddah sekiranya suami menyertai lafaz zihar dengan talak


Kaffarah zihar

1.Memerdekakan seorang hamba, Jika tidak mampu
2.Berpuasa dua bulan berturut-turut,Jika tidak mampu
3.Memberi makan enam puluh orang miskin

Firman Allah SWT dalam surah Almujadalah ayat 3-4:

dan orang-orang Yang "ziharkan" isterinya, kemudian mereka berbalik dari apa Yang mereka ucapkan (bahawa isterinya itu haram kepadaNya), maka hendaklah (suami itu) memerdekakan seorang hamba sebelum mereka berdua (suami isteri) bercampur. Dengan hukum Yang demikian, kamu diberi pengajaran (supaya jangan mendekati perkara Yang mungkar itu). dan (ingatlah), Allah Maha mendalam pengetahuannya akan apa Yang kamu lakukan.
Kemudian, sesiapa Yang tidak dapat (memerdekakan hamba), maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum mereka (suami isteri) itu bercampur. akhirnya sesiapa Yang tidak sanggup berpuasa, maka hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin. ditetapkan hukum itu untuk membuktikan iman kamu kepada Allah dan RasulNya (dengan mematuhi perintahNya serta menjauhi adat Jahiliyah). dan itulah batas-batas hukum Allah; dan bagi orang-orang Yang kafir disediakan azab seksa Yang tidak terperi sakitnya.